Demian merasa terkejut saat ia masuk ke dalam bangunan yang tadinya ia kira sudah ditelantarkan itu, "Tempat ini terlihat sangat berbeda dari dalam." Tutur Demian sambil berjalan maju. Rea mengikutinya dari belakang, "Oh memang berbeda seperti apa?" Tanya Rea sembari sedikit meringis di belakang Demian. "Ya pertama-tama, di sini banyak lampu." Ujar Demian sambil menunjukkan jarinya ke arah lampu berukuran besar yang terdapat di tengah langit-langit dan beberapa lampu lainnya di sekitarnya, "Yang menurutku sangat aneh karena pertama kali aku melihat bangunan ini, pikiran pertama yang terlintas di benakku adalah hanya orang mati yang mau tinggal di lubang gelap ini atau segerombolan tikus." Demian segera berbalik memandang Rea, "Kamu bukan salah satu dari yang kusebutkan tadi kan?! Karena jika kamu salah satunya, aku akan betul-betul terganggu."
Rea memicingkan kedua matanya, "Kamu gak mungkin serius?" Tanya Rea, terbingung-bingung akan pertanyaan Demian. "Aku hanya bercanda nona Rea, tampaknya kita punya pendengar yang sulit dihibur nih... gawat." Rea sedikit tersenyum ke arah Demian, "Aku hanya kaget saja menemukan bahwa ternyata tempat ini benar-benar terawat. Tempat ini sangat bersih dan kamu punya banyak perabotan menarik di sini." Tuturnya sembari melihat sekeliling ruangan meliriki sejumlah meja bundar terbuat dari kayu dilengkapi dengan kursi yang terlihat anggun, mini bar di sudut kiri ruangan, sekumpulan tanaman dalam ruangan diposisikan dengan rapih disamping sisi-sisi tembok, beberapa gambar yang tergantung di tembok, sebuah jukebox ditempatkan di samping bar dan lantainya terbuat dari sejenis material kayu yang mahal dan kuat, "Mengkilap..." Pikir Demian.
"Tapi tolong jelaskan nona Rea, kenapa hal ini sama sekali tidak tampak dari luar? Saya benar-benar yakin bangunan ini sepenuhnya gelap dan terdapat banyak lubang dan retakan pada sisi-sisi temboknya." Demian menghentikan langkahnya dan berputar ke arah Rea. Rea menatap mata Demian, "Apa kamu yakin mau tahu?" Tanya Rea sembari menyilangkan kedua belah tangannya. "Ini semua ulahmu ya? Kamu menipu mataku, sama seperti yang kamu lakukan sebelumnya dengan SIM ku!" Demian menyimpulkan, "Tapi bagaimana hal itu mungkin?" Demian menatapi Rea. "Oh Demian, kamu sangat meremehkan kemampuan kita." Rea berjalan melewati Demian. Demian memutar tubuhnya tetap memfokuskan pandangannya kepada Rea., "Apa maksudmu? Tolong jelaskan nona Rea!" Seru Demian sembari maju beberapa langkah ke depan menuntut pencerahan. "Seperti yang sudah saya bilang, kita tidak punya banyak waktu, ayo bergerak cepat dan ikuti aku. Untuk sekarang ada hal yang jauh lebih penting untuk diatasi. Saya harus mengenalkan kamu dengan seseorang, ia berada di atas, di lantai dua." Tutur Rea sambil bergegas memanjat tangga yang terletak di sudut kanan ruangan, ia berbalik dan menatap Demian, "Dan satu hal lagi, panggil aku Rea saja okay. Selain itu... jalannya lebih cepat lagi dong, memang umurmu berapa sih?" Ia meminta sembari sedikit tersenyum dan kembali menaikki tangganya. "Tunggu! Kamu baru saja menyindirku ya? Hey!" Seru Demian seraya bergegas mengikuti Rea ke lantai atas.
"Wow... teramat luar biasa... bunyi-bunyi apakah itu?" Pikir Demian sambil beridri dengan kagum memandangi sekeliling ruangan di lantai 2. Tidak terdapat perabotan sebanyak di ruangan lantai 1 hanya 3 kursi hitam yang terlihat sangat nyaman masing-masing dilengkapi dengan 5 roda kecil yang terpasang di bawah kaki kursi yang didesign sedikit bengkok dan sepasang tanaman dalam ruangan masing-masing diposisikan di sisi kiri dan kanan tembok, tembok dan lantainya terlihat sama seperti yang ada di ruangan sebelumnya namun di sini terdapat monitor tipis dan transparan yang berukuran sangat besar yang sepenuhnya menutupi 1 sisi tembok tepat di hadapan Demian saat itu, monitor itu terbagi menjadi 3 bagian berbentuk kotak, 2 bagian yang terdapat di bagian sisi memaparkan visualisasi akan tempat-tempat yang berbeda, mereka sepertinya gambar video waktu nyata sementara 1 bagian yang terdapat ditengah memaparkan kode-kode bahasa pemrograman komputer kompleks yang sedang diketik oleh seorang pria yang sedang duduk tepat di hadapan monitor tersebut menggunakan sebuah keyboard mewah yang tertempel pada bagian bawah monitor di tengah itu, "Apakah aku sedang mendengarkan pikirannya?" Pikir Demian sembari menatapi pria itu. Rea segera duduk di salah satu kursi yang terletak di sebelah kanan pria itu dan pria itu memutar arah kursinya sehingga ia dapat melihat Demian.
"Wow... teramat luar biasa... bunyi-bunyi apakah itu?" Pikir Demian sambil beridri dengan kagum memandangi sekeliling ruangan di lantai 2. Tidak terdapat perabotan sebanyak di ruangan lantai 1 hanya 3 kursi hitam yang terlihat sangat nyaman masing-masing dilengkapi dengan 5 roda kecil yang terpasang di bawah kaki kursi yang didesign sedikit bengkok dan sepasang tanaman dalam ruangan masing-masing diposisikan di sisi kiri dan kanan tembok, tembok dan lantainya terlihat sama seperti yang ada di ruangan sebelumnya namun di sini terdapat monitor tipis dan transparan yang berukuran sangat besar yang sepenuhnya menutupi 1 sisi tembok tepat di hadapan Demian saat itu, monitor itu terbagi menjadi 3 bagian berbentuk kotak, 2 bagian yang terdapat di bagian sisi memaparkan visualisasi akan tempat-tempat yang berbeda, mereka sepertinya gambar video waktu nyata sementara 1 bagian yang terdapat ditengah memaparkan kode-kode bahasa pemrograman komputer kompleks yang sedang diketik oleh seorang pria yang sedang duduk tepat di hadapan monitor tersebut menggunakan sebuah keyboard mewah yang tertempel pada bagian bawah monitor di tengah itu, "Apakah aku sedang mendengarkan pikirannya?" Pikir Demian sembari menatapi pria itu. Rea segera duduk di salah satu kursi yang terletak di sebelah kanan pria itu dan pria itu memutar arah kursinya sehingga ia dapat melihat Demian.
"Selamat datang di pangkalan kami, kamu pasti Demian. Kamu dapat memanggilku Dexon, atau Dex saja untuk lebih singkatnya." Sambut Dexon sambil berdiri dan menghampiri Demian seraya mengulurkan telapak tangannya dalam keadaan terbuka ke depan di hadapan Demian, Demian segera memberikan tos kepada Dexon beranggapan hal itulah yang memang ingin Dexon lakukan. Kaget, Dexon menarik kembali tangannya dan melirik ke arah Rea dalam kebingunan. Rea mengangkat kedua bahunya. "Baiklah, tidak apa. Tentunya kamu sudah kenal dengan Rea." Ujar Dexon menyinggung partner wanitanya, Demian mengangguk, "Silahkan duduk Demian aku yakin ada banyak yang ingin kamu sampaikan." Tawar Dexon sembari menunjuk ke kursi di sebelah kiri. "Bukan cuma banyak lagi." Ujar Rea sambil memangkukan kepalanya di tangan, Dexon tersenyum.
"Kamu sangat benar Dexon!" Seru Demian seraya berjalan ke kursi yang disediakan dan bergegas untuk duduk. "Tapi sebelum kita melanjutkan ke sesi tanya jawab, aku ingin menklarifikasikan sesuatu." Dexon menatap Demian dengan tajam, "Ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan, dan ini demi kebaikanmu sendiri. Jadi harap dimengerti." Jelas Dexon sementara Rea mengangguk sekali memberi tanda afirmasi. "Saya mengerti." Demian setuju dengan pernyataan yang secara jelas disampaikan tersebut.
Demian melirik ke arah Rea dan kembali ke Dexon, "Baik pertama-tama, aku mau mengkonfirmasi. Kalian bukan polisi kan?" Tanya Demian sembari memicingkan mata kirinya. "Kami memang bukan, kamu betul." Jawab Dexon. "Jadi mengapa kalian menyamar sebagai polisi tadi?" Demian menunjuk ke arah Rea, "Dan memang dimana sih mobil polisi itu? Setelah semua usahaku untuk mengingat plat nomornya, mobil itu bahkan tidak di sini!" Seru Demian merasa kecewa karena tidak dapat menemukan mobil polisi itu di mana-mana, Rea memutar matanya. "Kalian mencuri mobil itu ya? Itu perbuatan kriminal!" Demian melanjutkan seraya berasumsi bahwa itulah yang mereka lakukan. "Tidak, kami tidak mencuri mobil polisi milik siapa-siapa, bisa dibilang kami punya cara kami sendiri untuk urusan tersebut... dan untuk pertanyaan kenapa kami menyamar sebagai polisi..." Dexon berdiri dari kursinya, "Itu untuk membawamu ke sini... bangunan ini spesial. Mereka tidak akan dapat melihat ataupun mendengar apapun dari dalam bangunan ini, kami berdua sudah memastikan hal itu." Dexon berjalan beberapa langkah ke tengah ruangan. "Tapi 7505... baik-baik lupakan saja hal itu." Demian perlahan memutar kursinya ke arah Dexon, "Mereka yang kamu barusan sebut... kamu sedang membicarakan para malaikat betul?
Dexon berbalik, "Apa tepatnya yang kamu ketahui tentang para malaikat itu?" Tanya Dexon terhadap Demian. "Jadi kamu memang sedang membicarakan para malaikat itu. Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku ini atau aku tidak akan melanjutkan diskusi ini, siapa sebenarnya kalian ini? Apakah kamu sama sepertiku atau tidak?" Tanya Demian menuntut jawaban. "Aku sudah memberitahumu kan, kami tidak sama sepertimu, kami jauh lebih baik." Sahut Rea. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." Jawab Demian tidak puas. "Kalau begitu, beri pertanyaan yang lebih baik." Balas Rea memancing Demian untuk memberikan lebih banyak detil lewat pertanyaannya. "Apakah para malaikat juga datang kepadamu lewat mimpi?" Demian memakan umpan Rea, Rea tersenyum. "Kami tidak dapat menjawab itu." Jawab Rea seraya memutar kursinya ke arah monitor dan mulai menelusuri dan menggerakkan gambar-gambar di monitor layar sentuh menggunakan jari telunjuknya. "Apa?!" Seru Demian kesal, "Rubah berhati busuk!" Maki Demian dalam pikirannya, merasa ia telah dicurangi oleh Rea. "Hey jaga pikiranmu ya! Jangan bikin aku marah cowo manis." Tegur Rea sembari secara singkat memberi tatapan dingin kepada Demian dan kembali bergegas menelusuri gambar-gambar yang tempampang di layar sentuh. "Oh iya, dia bisa membaca pikiranku." Pikir Demian berusaha memahami situasinya. "Ceptor... itu sebutan untuk kita, jangan sampai kamu lupa." Jawab Rea. "Ia menyeramkan.. dan apa maksud dari sebutan aneh itu, memang Ceptor itu apa... atau tadi dia bilang raptor?! Masa mereka dinosaurus!" Pikir Demian sedikit terintimidasi dengan sikap Rea dan keasikan sendiri menebak-nebak. "Aku sudah memperingatkanmu Demian..." Ancam Rea, Demian terlihat ketakutan. "Tidak usah terlalu memikirkan sebutan aneh itu, lagipula semua nama kan hanya dibuat untuk menyederhanakan segala hal." Jelas Rea masih sibuk menelusuri gambar-gambar di layar.
Demian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Baik pertanyaan lain. Jadi rubah ini uh... maksud ku Rea err.." Demian berbicara terbata-bata karena masih ketakutan. Rea memberikan tatapan yang tajam dan dingin dari tempat ia duduk. "Rea di sini dapat membaca pikiran, seorang... Ceptor, begitu juga denganku, apakah kamu juga dapat membaca pikiran?" Demian bertanya kepada Dexon seraya Dexon menoleh ke arah Demian. Dexon melirik ke arah Rea untuk beberapa saat, Rea mengangguk. Dexon kembali memandang Demian. "Ya, aku bisa." Dexon dengan perlahan berjalan ke kursinya, kembali duduk dan memutar kursinya ke arah monitor. "Tapi, aku tidak membaca pikiran manusia seperti yang dapat kalian lakukan. Aku seorang Cipher, aku membaca pikiran mereka." Jelas Dexon sembari menunjuk kepada monitor-monitor dihadapannya dengan tangan kanannya dan bergegas untuk mengetik di keyboardnya yang berwarna putih, "Dari pengalamanku mereka juga sangat kooperatif." Demian terkejut akan apa yang dikatakan oleh Dexon, namun tetap tenang. "Apa kamu mau bilang bahwa kamu benar-benar dapat berkomunikasi dengan mesin?" Tanya Demian mencoba memahami hal yang tidak terbayangkan, Dexon mengangguk. "Ceptor... Cipher... Ini benar-benar mengobrak-abrik pikiranku." Tutur Demian sembari meletakkan kepalan tangannya dibawah dagunya. "Tapi tolong jangan dipikirkan, ingat baik-baik bahwa kami di sini bertujuan untuk membantumu semampu kami." Tutur Dexon memastikan niat kooperatifnya. "Akan lebih menjamin, kalau kalian bisa menjelaskan segalanya padaku." Ujar Demian mencoba mempersuasi Dexon, "Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan demi kebaikanmu sendiri Demian." Dexon menjelaskan sekali lagi sembari memberi tatapan singkat ke Demian dan kembali fokus untuk mengetik di keyboardnya.
"6.58 PM. Aku harus pergi." Pikir Demian sembari melirik jam tangannya dan segera menoleh ke arah Rea mengantisipasi kemampuannya untuk membaca pikiran, tidak berapa lama, Rea pun menoleh ke arahnya. "Kok buru-buru? Lagi banyak pikiran ya?" Tanya Rea sembari sedikit tersenyum. "Aku punya satu pertanyaan terakhir sebelum aku pergi." Demian mengajukan lalu Rea menoleh ke arahnya, "Sudah pertanyaan terakhir? Aku pikir masih banyak hal yang harus dibicarakan sekarang." Tutur Rea. "Aku tidak bisa membuang-buang waktuku di sini, aku harus menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan kepadaku sebelum malam ini berakhir. Para malaikat itu, mereka menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Apakah kalian tahu tentang hal itu?" Tanya Demian mencoba menentukan tingkat pengetahuan Rea dan Dex mengenai misinya. "Tentu saja, justru karena hal itulah mengapa kami mengarahkanmu ke sini." Jawab Dexon, "Kami butuh kamu untuk mengabaikan perintah yang disampaikan oleh para malaikat itu, dan membatalkan misinya sepenuhnya." Dexon memutar kursinya ke arah Demian memberikan seluruh perhatiannya.
Demian mengambil beberapa saat untuk memikirkan segalanya dalam keheningan, "Kalau harus jujur, aku sama sekali tidak dapat berpikir sekarang." Demian menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa sedikit tertekan, Dexon menoleh ke Rea memberi signal padanya untuk melakukan sesuatu. "Aku harus percaya kepada siapa?" Pikir Demian. Rea berdiri dan berjalan ke arah Demian, ia meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Demian sementara tangan kirinya menggenggam SIM milik Demian, "Kamu bisa percaya pada kami Demian. Mereka bukanlah seperti yang kamu pikirkan, mereka memiliki niat yang buruk." Tutur Rea mempersuasi Demian. "Kalian juga tidak sepenuhnya terbuka denganku dan kalian mengharapkan aku untuk percaya kepada kalian begitu saja?" Demian mengambil SIM-nya dan berdiri, "Mau tahu sesuatu, waktuku sudah mau habis. Aku tidak bisa bersantai di sini terus mendengarkan penjalsan kalian yang dipenuhi dengan kode, aku harus pergi." Demian lari ke arah tangga dan bergegas menuruninya, "Tunggu Demian! Jangan lakukan perintah mereka!" Teriak Rea seraya berlari mengejar Demian ke arah tangga, "Sialan! Dia sudah pergi." Kutuk Rea sembari melihat ke bawah tangga dari lantai 2. "Tidak apa-apa princess, dia pasti akan membuat keputusan yang benar." Tutur Dexon seraya mengetik dengan santai di keyboardnya. "Aku harap begitu Dex. Aku betul-betul berharap." Ujar Rea sembari berjalan ke kursinya dan kembali duduk.
"Apakah kamu sudah melakukan hal yang kita bicarakan?" Tanya Dexon sembari masih mengetik di komputernya. "Kamu pikir kamu sedang berbicara sama siapa Dex?" Jawab Rea dengan angkuh sembari menekan sebuah tombol di monitor layar sentuh dihadapannya. Muncul di monitor tersebut gambar Demian yang sedang keluar dari gedung dan berlari di trotoar. "Sekarang dia akan selalu berada di dalam jangkauan kita kapanpun kita inginkan." Tutur Rea memberi nama baru untuk video waktu nyata Demian tersebut, "Project Demian."
"Kamu sangat benar Dexon!" Seru Demian seraya berjalan ke kursi yang disediakan dan bergegas untuk duduk. "Tapi sebelum kita melanjutkan ke sesi tanya jawab, aku ingin menklarifikasikan sesuatu." Dexon menatap Demian dengan tajam, "Ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan, dan ini demi kebaikanmu sendiri. Jadi harap dimengerti." Jelas Dexon sementara Rea mengangguk sekali memberi tanda afirmasi. "Saya mengerti." Demian setuju dengan pernyataan yang secara jelas disampaikan tersebut.
Demian melirik ke arah Rea dan kembali ke Dexon, "Baik pertama-tama, aku mau mengkonfirmasi. Kalian bukan polisi kan?" Tanya Demian sembari memicingkan mata kirinya. "Kami memang bukan, kamu betul." Jawab Dexon. "Jadi mengapa kalian menyamar sebagai polisi tadi?" Demian menunjuk ke arah Rea, "Dan memang dimana sih mobil polisi itu? Setelah semua usahaku untuk mengingat plat nomornya, mobil itu bahkan tidak di sini!" Seru Demian merasa kecewa karena tidak dapat menemukan mobil polisi itu di mana-mana, Rea memutar matanya. "Kalian mencuri mobil itu ya? Itu perbuatan kriminal!" Demian melanjutkan seraya berasumsi bahwa itulah yang mereka lakukan. "Tidak, kami tidak mencuri mobil polisi milik siapa-siapa, bisa dibilang kami punya cara kami sendiri untuk urusan tersebut... dan untuk pertanyaan kenapa kami menyamar sebagai polisi..." Dexon berdiri dari kursinya, "Itu untuk membawamu ke sini... bangunan ini spesial. Mereka tidak akan dapat melihat ataupun mendengar apapun dari dalam bangunan ini, kami berdua sudah memastikan hal itu." Dexon berjalan beberapa langkah ke tengah ruangan. "Tapi 7505... baik-baik lupakan saja hal itu." Demian perlahan memutar kursinya ke arah Dexon, "Mereka yang kamu barusan sebut... kamu sedang membicarakan para malaikat betul?
Dexon berbalik, "Apa tepatnya yang kamu ketahui tentang para malaikat itu?" Tanya Dexon terhadap Demian. "Jadi kamu memang sedang membicarakan para malaikat itu. Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku ini atau aku tidak akan melanjutkan diskusi ini, siapa sebenarnya kalian ini? Apakah kamu sama sepertiku atau tidak?" Tanya Demian menuntut jawaban. "Aku sudah memberitahumu kan, kami tidak sama sepertimu, kami jauh lebih baik." Sahut Rea. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." Jawab Demian tidak puas. "Kalau begitu, beri pertanyaan yang lebih baik." Balas Rea memancing Demian untuk memberikan lebih banyak detil lewat pertanyaannya. "Apakah para malaikat juga datang kepadamu lewat mimpi?" Demian memakan umpan Rea, Rea tersenyum. "Kami tidak dapat menjawab itu." Jawab Rea seraya memutar kursinya ke arah monitor dan mulai menelusuri dan menggerakkan gambar-gambar di monitor layar sentuh menggunakan jari telunjuknya. "Apa?!" Seru Demian kesal, "Rubah berhati busuk!" Maki Demian dalam pikirannya, merasa ia telah dicurangi oleh Rea. "Hey jaga pikiranmu ya! Jangan bikin aku marah cowo manis." Tegur Rea sembari secara singkat memberi tatapan dingin kepada Demian dan kembali bergegas menelusuri gambar-gambar yang tempampang di layar sentuh. "Oh iya, dia bisa membaca pikiranku." Pikir Demian berusaha memahami situasinya. "Ceptor... itu sebutan untuk kita, jangan sampai kamu lupa." Jawab Rea. "Ia menyeramkan.. dan apa maksud dari sebutan aneh itu, memang Ceptor itu apa... atau tadi dia bilang raptor?! Masa mereka dinosaurus!" Pikir Demian sedikit terintimidasi dengan sikap Rea dan keasikan sendiri menebak-nebak. "Aku sudah memperingatkanmu Demian..." Ancam Rea, Demian terlihat ketakutan. "Tidak usah terlalu memikirkan sebutan aneh itu, lagipula semua nama kan hanya dibuat untuk menyederhanakan segala hal." Jelas Rea masih sibuk menelusuri gambar-gambar di layar.
Demian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Baik pertanyaan lain. Jadi rubah ini uh... maksud ku Rea err.." Demian berbicara terbata-bata karena masih ketakutan. Rea memberikan tatapan yang tajam dan dingin dari tempat ia duduk. "Rea di sini dapat membaca pikiran, seorang... Ceptor, begitu juga denganku, apakah kamu juga dapat membaca pikiran?" Demian bertanya kepada Dexon seraya Dexon menoleh ke arah Demian. Dexon melirik ke arah Rea untuk beberapa saat, Rea mengangguk. Dexon kembali memandang Demian. "Ya, aku bisa." Dexon dengan perlahan berjalan ke kursinya, kembali duduk dan memutar kursinya ke arah monitor. "Tapi, aku tidak membaca pikiran manusia seperti yang dapat kalian lakukan. Aku seorang Cipher, aku membaca pikiran mereka." Jelas Dexon sembari menunjuk kepada monitor-monitor dihadapannya dengan tangan kanannya dan bergegas untuk mengetik di keyboardnya yang berwarna putih, "Dari pengalamanku mereka juga sangat kooperatif." Demian terkejut akan apa yang dikatakan oleh Dexon, namun tetap tenang. "Apa kamu mau bilang bahwa kamu benar-benar dapat berkomunikasi dengan mesin?" Tanya Demian mencoba memahami hal yang tidak terbayangkan, Dexon mengangguk. "Ceptor... Cipher... Ini benar-benar mengobrak-abrik pikiranku." Tutur Demian sembari meletakkan kepalan tangannya dibawah dagunya. "Tapi tolong jangan dipikirkan, ingat baik-baik bahwa kami di sini bertujuan untuk membantumu semampu kami." Tutur Dexon memastikan niat kooperatifnya. "Akan lebih menjamin, kalau kalian bisa menjelaskan segalanya padaku." Ujar Demian mencoba mempersuasi Dexon, "Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan demi kebaikanmu sendiri Demian." Dexon menjelaskan sekali lagi sembari memberi tatapan singkat ke Demian dan kembali fokus untuk mengetik di keyboardnya.
"6.58 PM. Aku harus pergi." Pikir Demian sembari melirik jam tangannya dan segera menoleh ke arah Rea mengantisipasi kemampuannya untuk membaca pikiran, tidak berapa lama, Rea pun menoleh ke arahnya. "Kok buru-buru? Lagi banyak pikiran ya?" Tanya Rea sembari sedikit tersenyum. "Aku punya satu pertanyaan terakhir sebelum aku pergi." Demian mengajukan lalu Rea menoleh ke arahnya, "Sudah pertanyaan terakhir? Aku pikir masih banyak hal yang harus dibicarakan sekarang." Tutur Rea. "Aku tidak bisa membuang-buang waktuku di sini, aku harus menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan kepadaku sebelum malam ini berakhir. Para malaikat itu, mereka menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Apakah kalian tahu tentang hal itu?" Tanya Demian mencoba menentukan tingkat pengetahuan Rea dan Dex mengenai misinya. "Tentu saja, justru karena hal itulah mengapa kami mengarahkanmu ke sini." Jawab Dexon, "Kami butuh kamu untuk mengabaikan perintah yang disampaikan oleh para malaikat itu, dan membatalkan misinya sepenuhnya." Dexon memutar kursinya ke arah Demian memberikan seluruh perhatiannya.
Demian mengambil beberapa saat untuk memikirkan segalanya dalam keheningan, "Kalau harus jujur, aku sama sekali tidak dapat berpikir sekarang." Demian menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa sedikit tertekan, Dexon menoleh ke Rea memberi signal padanya untuk melakukan sesuatu. "Aku harus percaya kepada siapa?" Pikir Demian. Rea berdiri dan berjalan ke arah Demian, ia meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Demian sementara tangan kirinya menggenggam SIM milik Demian, "Kamu bisa percaya pada kami Demian. Mereka bukanlah seperti yang kamu pikirkan, mereka memiliki niat yang buruk." Tutur Rea mempersuasi Demian. "Kalian juga tidak sepenuhnya terbuka denganku dan kalian mengharapkan aku untuk percaya kepada kalian begitu saja?" Demian mengambil SIM-nya dan berdiri, "Mau tahu sesuatu, waktuku sudah mau habis. Aku tidak bisa bersantai di sini terus mendengarkan penjalsan kalian yang dipenuhi dengan kode, aku harus pergi." Demian lari ke arah tangga dan bergegas menuruninya, "Tunggu Demian! Jangan lakukan perintah mereka!" Teriak Rea seraya berlari mengejar Demian ke arah tangga, "Sialan! Dia sudah pergi." Kutuk Rea sembari melihat ke bawah tangga dari lantai 2. "Tidak apa-apa princess, dia pasti akan membuat keputusan yang benar." Tutur Dexon seraya mengetik dengan santai di keyboardnya. "Aku harap begitu Dex. Aku betul-betul berharap." Ujar Rea sembari berjalan ke kursinya dan kembali duduk.
"Apakah kamu sudah melakukan hal yang kita bicarakan?" Tanya Dexon sembari masih mengetik di komputernya. "Kamu pikir kamu sedang berbicara sama siapa Dex?" Jawab Rea dengan angkuh sembari menekan sebuah tombol di monitor layar sentuh dihadapannya. Muncul di monitor tersebut gambar Demian yang sedang keluar dari gedung dan berlari di trotoar. "Sekarang dia akan selalu berada di dalam jangkauan kita kapanpun kita inginkan." Tutur Rea memberi nama baru untuk video waktu nyata Demian tersebut, "Project Demian."