"2.56 PM." Pikir Demian saat melirik jam digital di dalam mobil. Demian menghela nafas, "Waktuku masih banyak." Ia sedikit mengurangi kecepatan mobilnya untuk dapat menikmati jalanan dan pemandangan di sekitarnya seperti yang biasa ia lakukan untuk rileks. Sebuah perasaan yang menyenangkan melihat jalanan di hadapannya yang kosong, mobil terdekat di depan, jaraknya sangat jauh sampai Demian tidak dapat melihatnya dengan jelas. Demian memandang ke kiri dan menemukan deretan pohon pinus yang tertata dengan sempurna di sepanjang sisi jalanan, orang-orang berjalan dalam gerakan lamban di trotoar terlihat sibuk seperti biasanya mengenakan pakaian kantor dan mantel panjang sambil membawa hal-hal 'penting', "Pasti udaranya sedikit dingin di luar." Pikir Demian, ia lalu mengarahkan pandangannya ke langit jauh di atas, awan-awan tebal berwarna putih bersih hampir sepenuhnya melingkupi langit biru muda dalam formasi yang memukau. "Favoritku." Demian sedikit tersenyum, mabuk dalam relaksasi. "Lampu merah!!" Teriak Demian di dalam pikirannya, tanpa sengaja ia menerobos lampu merah dan saat itu juga ia meninggalkan alam relaksasi dalam pikirannya untuk sepenuhnya fokus kepada jalanan yang terbentang di hadapannya. "Sialan! Aku sama sekali tidak melihat lampu merah itu!" Kutuknya sembari tetap melaju dengan mobilnya. Ia menghela nafas, "Untung tidak terjadi apa-apa."
Bunyi yang lirih namun tidak asing beranjak semakin keras, memenuhi suasana sunyi di lalu lintas yang sepi. Demian tidak terlalu dapat menerkanya, namun ia tetap berusaha untuk mencari jawabannya. Semakin keras bunyinya, semakin mudah untuk mengenali deringan bunyi yang mirip alarm tersebut. Ia memperoleh jawabannya, Demian memberikan lirikan singkat ke kaca spion di dalam mobilnya, "Sial, aku tidak ada waktu untuk hal ini sekarang!" Mobil polisi itu mendekat dan menyalakan lampu signal kirinya, mengisyaratkan Demian untuk menepi.
Bunyi yang lirih namun tidak asing beranjak semakin keras, memenuhi suasana sunyi di lalu lintas yang sepi. Demian tidak terlalu dapat menerkanya, namun ia tetap berusaha untuk mencari jawabannya. Semakin keras bunyinya, semakin mudah untuk mengenali deringan bunyi yang mirip alarm tersebut. Ia memperoleh jawabannya, Demian memberikan lirikan singkat ke kaca spion di dalam mobilnya, "Sial, aku tidak ada waktu untuk hal ini sekarang!" Mobil polisi itu mendekat dan menyalakan lampu signal kirinya, mengisyaratkan Demian untuk menepi.
Demian bergegas untuk memarkirkan mobilnya di dekat trotoar sementara mobil polisi itu segera melakukan hal yang sama di belakangnya. Beberapa saat kemudian seorang petugas melangkah keluar dari sisi kanan mobil polisi itu sambil membawa buku tilang dan bolpoin yang tergantung di saku bajunya, petugas itu menghampiri mobil Demian, sedikit membungkuk lalu mengetuk jendela mobil mengisyaratkan Demian untuk menurunkan jendelanya.
Demian menurunkan jendela mobilnya dan melepaskan kacamatanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk anda di sore yang indah ini petugas?" Tanya Demian sembari menoleh ke petugas dan menyadari rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang dan tubuhnya yang langsing namun berlekukan menawan, "Seorang petugas wanita, cukup jarang di hari-hari sekarang ini." Pikir Demian. Sang petugas melepaskan kacamatanya, "Begini bapak, jika anda belum menyadarinya, barusan saja anda telah menerobos lampu merah di sebelah sana sekitar beberapa menit yang lalu." Ia menunjuk ke arah lampu merah tersebut beberapa mil di belakang. "Oh ya, apakah betul?" Tanya Demian berpura-pura tidak menyadari pelanggaran yang telah ia perbuat. Petugas wanita itu memicingkan kedua matanya, "Ya pak, sayangnya itu benar-benar terjadi. tolong, SIM dan STNK-nya." Tuturnya dengan nada datar sembari menadahkan telapak tangannya di hadapan Demian meminta surat-suratnya. Demian menggeledah dasbor dan dompetnya untuk menemukan kedua benda tersebut. "Silahkan nona... hmm dia berbeda." Demian menyerahkan kedua benda ke sang petugas. "Hmph! Jangan harap bisa, tampan. Petugas Rea, panggilan saya. Biarkan saya memeriksa surat-surat ini terlebih dahulu pak... Demian Trayson." Ia bergegas membaca surat-surat yang telah diserahkan kepadanya. "3:42 PM! Aku harus mempersingkat proses ini! Nona Rea apakah bisa kalau kita lebih bergegas lagi, saya ada acara penting yang akan dimulai sebentar lagi, yang juga merupakan tanggung jawab saya." Demian memohon padanya. Rea memberikan tatapan dingin kepada Demian, "Pak Demian, tolong bersabar. Saya harus selalu teliti di dalam pekerjaan saya, itulah juga sebabnya saya dijabatkan sebagai seorang petugas, ini merupakan perkerjaan yang serius lho." Ia menjelaskan, "Lagipula, anda tahu kan apa yang mereka bilang, jangan berbuat tindakan kriminal jika tidak dapat membayarnya dengan waktu, hahaha.. itu yang mereka bilang kan?" Ia bergurau. "Apa...? Ada apa sih dengan wanita ini, dia membuang-buang waktuku saja!" Demian mulai merasa jengkel dengan situasi itu. "Itu yang mereka bilang kan pak Demian? Tahu kan... ekpresi itu lho." Petugas Rea masih berusaha mengklarifikasi pemikirannya.
"Nona Rea! Tolonglah, saya benar-benar sedang terburu-buru. Saya bertanggung jawab terhadap sebuah kejadian penting yang akan berlangsung sebentar lagi. Saya tidak bercanda sama sekali nih." Demian menjelaskan situasinya dengan nada yang sedikit melonjak. "Oh baik, saya minta maaf. Biar saya periksa sebentar surar-suratnya." Petugas Rea akhirnya selesai memeriksa STNK, sekarang berlanjut untuk memeriksa SIM, "Anda tidak perlu kasar tahu pak... dengan nada anda." Ujar petugas Rea sedikit tersinggung, ia memberi tatapan yang memelas kepada Demian, "Yang benar saja ini! Baik, saya juga minta maaf kepada anda nona Rea, sekarang bisakah kita sudahi permasalahan ini." Demian memohon. "Nah itu lebih baik." Ujar petugas Rea dengan nada yang ceria, Demian menggelengkan kepalanya sedikit. "Hmm.. pak Demian. Sayangnya saya harus menyita SIM anda ini yang sudah kadaluwarsa masa berlakunya beberapa bulan lalu." Ia mengembalikan surat STNK dan mengantongi SIM Demian di kantong bagian bawah di celananya. Demian kembali menyimpan surat STNK nya di dalam dasbor, "SIM saya habis masa berlakunya? Hal itu sangat tidak mungkin! Harusnya masa berlakunya baru habis tahun depan!" Ia menjelaskan dengan suara keras. "Ehem... nada anda pak." Petugas Rea kembali menatap Demian untuk mengingatkannya, Demian menghela nafasnya. Rea mengeluarkan SIM Demian dan memposisikannya di depan wajah Demian sehingga ia dapat melihat tanggal kadaluwarsanya, "Jadi pak Demian, seperti yang anda dapat lihat sendiri di sini. SIM anda kadaluwarsa bulan Januari tahun 2012, itu adalah 4 bulan yang lalu." Dengan jarinya Rea menunjukkan detailnya ke Demian. "Ini mustahil aku sangat yakin bahwa tanggal kadaluwarsanya adalah Januari 2013. Sialan." Pikir Demian seraya mengingat dengan seksama tanggal perpanjangan SIM tersebut. "Waktu itu bulan Januari 2008, aku yakin sekali. Saat itu bertepatan dengan kepergian ayahku, aku tidak mungkin salah tentang hal ini, betul-betul tidak masuk akal!"
"Ehem pak Demian, bisa tolong perhatiannya?" Pinta Rea mencoba menarik fokus Demian kembali kepadanya. "Jadi seperti yang sudah saya sampaikan, saya harus menyita SIM anda sesuai dengan peraturan yang berlaku. Anda dapat mengambilnya di alamat yang tercantum di surat tilang untuk pelanggaran anda ini." Jelas petugas Rea sembari menyerahkan surat tilang kepada Demian. "Sudah jelas pak Demian?" Tanya Rea untuk mengkonfirmasi bahwa Demian mengerti seluruh situasinya. Demian menghela nafasnya dan mengangguk, "Ya saya mengerti."
"Ehem pak Demian, bisa tolong perhatiannya?" Pinta Rea mencoba menarik fokus Demian kembali kepadanya. "Jadi seperti yang sudah saya sampaikan, saya harus menyita SIM anda sesuai dengan peraturan yang berlaku. Anda dapat mengambilnya di alamat yang tercantum di surat tilang untuk pelanggaran anda ini." Jelas petugas Rea sembari menyerahkan surat tilang kepada Demian. "Sudah jelas pak Demian?" Tanya Rea untuk mengkonfirmasi bahwa Demian mengerti seluruh situasinya. Demian menghela nafasnya dan mengangguk, "Ya saya mengerti."
"Baik pak Demian, itu saja yang saya ingin sampaikan. Jangan lupa untuk segera mengunjungi alamat itu, harap diperhatikan baik-baik. Saya harus pergi sekarang, saya minta maaf atas apa yang terjadi di sini pak Demian. Saya harap anda sudah belajar dari pengalaman ini dan menjadi lebih hati-hati tatkala menyetir mulai dari sekarang." Tutur Rea sembari mengenakan kacamata hitamnya dan memberikan senyuman perpisahan kepada Demian, ia lalu segera berjalan ke mobil polisinya. Beberapa saat kemudian, mobil polisi tersebut melaju melewati mobil Demian yang masih terparkir dekat trotoar jalanan. Demian melihat sosok orang lain yang menyetir mobil polisi selagi mobil itu pergi, ia segera melirik plat nomor mobil tersebut, "7505." Demian berpikir bahwa mengingat plat nomor tersebut merupakan ide yang baik.
"Sialan!" Demian menghantam stir mobil dengan kepal tangannya. Demian melirik jam, "4:14 PM. Aku masih ada waktu untuk mengurus seluruh permasalahan SIM yang penuh omong kosong ini sebelum saat itu. Tenang Demian, kamu bisa melakukan ini." Tutur Demian seraya menenangkan dirinya sendiri. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Alamat ini, letaknya di Stuyvesant. Setidaknya dekat dengan tempat tinggalku." Demian menghela nafas, "Baiklah ini tidak akan mengganggu rencana semula. Aku dapat menyelesaikan tugas itu setelah mengambil kembali SIM-ku." Demian menyalakan mesin mobil dan segera melaju pergi. "Hm... langitnya masih terlihat bagus di jam segini. Sore yang benar-benar indah." Renung Demian seraya sekali lagi meluangkan waktunya untuk menikmati pemandangan selagi menyetir mobilnya ke Stuy town untuk memperoleh kembali SIM-nya.
Sementara itu di dalam mobil polisi
"Bagaimana performaku tadi Dex?" Ujar Rea kepada temannya yang duduk di kursi supir sembari melepaskan kacamatanya dan memandang ke arahnya. "Sempurna seperti biasanya princess." Balas Dex sembari tersenyum. "Ya dong, apa lagi hasil yang bisa kamu harapkan dari ku Dexon?" Ujar Rea memancing Dexon untuk lebih memujinya lagi. "Ya Rea, aku akan tepuk tangan kalau aku lagi gak nyetir. Sekarang seluruh kartunya ada di tangan kita yang trampil ini." Tutur Dexon sembari tetap terfokus kepada jalanan. "Dan yang diperlukan hanyalah tiga perubahan seperti yang sudah kamu kalkulasi, kamu memang hebat Dexon!" Ia menyondongkan tubuhnya untuk memeluk Dexon. "Sebentar Rea!" Seru Dex seraya tangannya lepas dari stir, mobil polisi itu meluncur ke sisi kiri jalan di luar kendali. Terkejut, Rea segera kembali ke posisi duduk normalnya, Dexon meletakkan kedua tangannya kembali di stir. "Maaf Dex! Tadi itu salahku, Alphy gak apa-apa kan?" Rea minta maaf, Dexon menepuk bahu Rea dengan tangan kanannya untuk sesaat dan segera meletakannya kembali dengan hati-hati di stir, "Gak, jangan khawatir Rea. Benda sialan ini saja yang merepotkan, sekarang aku masih berlatih agar bisa terbiasa, aku pasti akan menguasainya sebentar lagi seperti mesin-mesin lainnya di hidupku. Alphy sedikit tertegun, tapi sedikit guncangan tidak akan dapat menyakitinya sebagaimanapun. Kamu kan tahu itu Rea, kasih Alphy lebih banyak kredit dong." Jelas Dexon sembari meletakkan tangan kanannya di bagian tengah dadanya dan menatap Rea memastikan bahwa mereka berdua tidak apa-apa sekaligus menghibur Rea. "Aku tahu.. tapi tetap saja, maaf Alphy." Rea cemberut dengan raut wajah yang lucu, Dexon tersenyum lagi, "Kami baik-baik saja Rea, jujur."
"Ya, okay kalau gitu. Lagipula Dexon, aku tahu kamu dan apa saja yang dapat kamu lakukan. Benda ini mah bukan apa-apa." Tutur Rea seraya kembali menikmati pemandangan jalanan di hadapannya, "Hmm, harus kuakui. Aku mulai menyukai tempat ini, dan si Demian itu terlihat jauh lebih seksi saat berhadapan langsung." Rea menegaskan, "Ia mengingatkanku padamu Dex." Dexon melirik ke arah Rea sambil tersenyum, "Aku tahu kamu dari awal ketemu udah naksir ama aku." Goda Dexon, Rea tersenyum dan memukul Dexon dengan ringan di bagian atas tangan kanannya, "Haha, hati-hati princess. Aku sudah kasih tahu kalau aku masih mencoba untuk terbiasa dengan benda ini. Tapi sejujurnya, aku senang mendengar bahwa kamu menikmati ini sebagaimana aku menikmatinya. Kita memang tim yang terbaik, betul gak?" Rea kembali mengenakan kacamatanya, " Dexon, ini baru sekedar permulaan." Tutur Rea sementara mobilnya melaju dengan kencang melewati jalanan yang kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuangkan pikiran anda di sini kawan-kawan. Umpan balik dan semua saran anda akan selalu dihargai, terima kasih.