Selasa, 29 Mei 2012

Episode 1 [Bagian 4]: Pencegahan

Demian merasa terkejut saat ia masuk ke dalam bangunan yang tadinya ia kira sudah ditelantarkan itu, "Tempat ini terlihat sangat berbeda dari dalam." Tutur Demian sambil berjalan maju. Rea mengikutinya dari belakang, "Oh memang berbeda seperti apa?" Tanya Rea sembari sedikit meringis di belakang Demian. "Ya pertama-tama, di sini banyak lampu." Ujar Demian sambil menunjukkan jarinya ke arah lampu berukuran besar yang terdapat di tengah langit-langit dan beberapa lampu lainnya di sekitarnya, "Yang menurutku sangat aneh karena pertama kali aku melihat bangunan ini, pikiran pertama yang terlintas di benakku adalah hanya orang mati yang mau tinggal di lubang gelap ini atau segerombolan tikus." Demian segera berbalik memandang Rea, "Kamu bukan salah satu dari yang kusebutkan tadi kan?! Karena jika kamu salah satunya, aku akan betul-betul terganggu."
          Rea memicingkan kedua matanya, "Kamu gak mungkin serius?" Tanya Rea, terbingung-bingung akan pertanyaan Demian. "Aku hanya bercanda nona Rea, tampaknya kita punya pendengar yang sulit dihibur nih... gawat." Rea sedikit tersenyum ke arah Demian, "Aku hanya kaget saja menemukan bahwa ternyata tempat ini benar-benar terawat. Tempat ini sangat bersih dan kamu punya banyak perabotan menarik di sini." Tuturnya sembari melihat sekeliling ruangan meliriki sejumlah meja bundar terbuat dari kayu dilengkapi dengan kursi yang terlihat anggun, mini bar di sudut kiri ruangan, sekumpulan tanaman dalam ruangan diposisikan dengan rapih disamping sisi-sisi tembok, beberapa gambar yang tergantung di tembok, sebuah jukebox ditempatkan di samping bar dan lantainya terbuat dari sejenis material kayu yang mahal dan kuat, "Mengkilap..." Pikir Demian.
       "Tapi tolong jelaskan nona Rea, kenapa hal ini sama sekali tidak tampak dari luar? Saya benar-benar yakin bangunan ini sepenuhnya gelap dan terdapat banyak lubang dan retakan pada sisi-sisi temboknya." Demian menghentikan langkahnya dan berputar ke arah Rea. Rea menatap mata Demian, "Apa kamu yakin mau tahu?" Tanya Rea sembari menyilangkan kedua belah tangannya. "Ini semua ulahmu ya? Kamu menipu mataku, sama seperti yang kamu lakukan sebelumnya dengan SIM ku!" Demian menyimpulkan, "Tapi bagaimana hal itu mungkin?" Demian menatapi Rea. "Oh Demian, kamu sangat meremehkan kemampuan kita." Rea berjalan melewati Demian. Demian memutar tubuhnya tetap memfokuskan pandangannya kepada Rea., "Apa maksudmu? Tolong jelaskan nona Rea!" Seru Demian sembari maju beberapa langkah ke depan menuntut pencerahan. "Seperti yang sudah saya bilang, kita tidak punya banyak waktu, ayo bergerak cepat dan ikuti aku. Untuk sekarang ada hal yang jauh lebih penting untuk diatasi. Saya harus mengenalkan kamu dengan seseorang, ia berada di atas, di lantai dua." Tutur Rea sambil bergegas memanjat tangga yang terletak di sudut kanan ruangan, ia berbalik dan menatap Demian, "Dan satu hal lagi, panggil aku Rea saja okay. Selain itu... jalannya lebih cepat lagi dong, memang umurmu berapa sih?" Ia meminta sembari sedikit tersenyum dan kembali menaikki tangganya. "Tunggu! Kamu baru saja menyindirku ya? Hey!" Seru Demian seraya bergegas mengikuti Rea ke lantai atas.
          "Wow... teramat luar biasa... bunyi-bunyi apakah itu?" Pikir Demian sambil beridri dengan kagum memandangi sekeliling ruangan di lantai 2. Tidak terdapat perabotan sebanyak di ruangan lantai 1 hanya 3 kursi hitam yang terlihat sangat nyaman masing-masing dilengkapi dengan 5 roda kecil yang terpasang di bawah kaki kursi yang didesign sedikit bengkok dan sepasang tanaman dalam ruangan masing-masing diposisikan di sisi kiri dan kanan tembok, tembok dan lantainya terlihat sama seperti yang ada di ruangan sebelumnya namun di sini terdapat monitor tipis dan transparan yang berukuran sangat besar yang sepenuhnya menutupi 1 sisi tembok tepat di hadapan Demian saat itu, monitor itu terbagi menjadi 3 bagian berbentuk kotak, 2 bagian yang terdapat di bagian sisi memaparkan visualisasi akan tempat-tempat yang berbeda, mereka sepertinya gambar video waktu nyata sementara 1 bagian yang terdapat ditengah memaparkan kode-kode bahasa pemrograman komputer kompleks yang sedang diketik oleh seorang pria yang sedang duduk tepat di hadapan monitor tersebut menggunakan sebuah keyboard mewah yang tertempel pada bagian bawah monitor di tengah itu, "Apakah aku sedang mendengarkan pikirannya?" Pikir Demian sembari menatapi pria itu. Rea segera duduk di salah satu kursi yang terletak di sebelah kanan pria itu dan pria itu memutar arah kursinya sehingga ia dapat melihat Demian.
          "Selamat datang di pangkalan kami, kamu pasti Demian. Kamu dapat memanggilku Dexon, atau Dex saja untuk lebih singkatnya." Sambut Dexon sambil berdiri dan menghampiri Demian seraya mengulurkan telapak tangannya dalam keadaan terbuka ke depan di hadapan Demian, Demian segera memberikan tos kepada Dexon beranggapan hal itulah yang memang ingin Dexon lakukan. Kaget, Dexon menarik kembali tangannya dan melirik ke arah Rea dalam kebingunan. Rea mengangkat kedua bahunya. "Baiklah, tidak apa. Tentunya kamu sudah kenal dengan Rea." Ujar Dexon menyinggung partner wanitanya, Demian mengangguk, "Silahkan duduk Demian aku yakin ada banyak yang ingin kamu sampaikan." Tawar Dexon sembari menunjuk ke kursi di sebelah kiri. "Bukan cuma banyak lagi." Ujar Rea sambil memangkukan kepalanya di tangan, Dexon tersenyum.
          "Kamu sangat benar Dexon!" Seru Demian seraya berjalan ke kursi yang disediakan dan bergegas untuk duduk. "Tapi sebelum kita melanjutkan ke sesi tanya jawab, aku ingin menklarifikasikan sesuatu." Dexon menatap Demian dengan tajam, "Ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan, dan ini demi kebaikanmu sendiri. Jadi harap dimengerti." Jelas Dexon sementara Rea mengangguk sekali memberi tanda afirmasi. "Saya mengerti." Demian setuju dengan pernyataan yang secara jelas disampaikan tersebut.
         Demian melirik ke arah Rea dan kembali ke Dexon, "Baik pertama-tama, aku mau mengkonfirmasi. Kalian bukan polisi kan?" Tanya Demian sembari memicingkan mata kirinya. "Kami memang bukan, kamu betul." Jawab Dexon. "Jadi mengapa kalian menyamar sebagai polisi tadi?" Demian menunjuk ke arah Rea, "Dan memang dimana sih mobil polisi itu? Setelah semua usahaku untuk mengingat plat nomornya, mobil itu bahkan tidak di sini!" Seru Demian merasa kecewa karena tidak dapat menemukan mobil polisi itu di mana-mana, Rea memutar matanya. "Kalian mencuri mobil itu ya? Itu perbuatan kriminal!" Demian melanjutkan seraya berasumsi bahwa itulah yang mereka lakukan. "Tidak, kami tidak mencuri mobil polisi milik siapa-siapa, bisa dibilang kami punya cara kami sendiri untuk urusan tersebut... dan untuk pertanyaan kenapa kami menyamar sebagai polisi..." Dexon berdiri dari kursinya, "Itu untuk membawamu ke sini... bangunan ini spesial. Mereka tidak akan dapat melihat ataupun mendengar apapun dari dalam bangunan ini, kami berdua sudah memastikan hal itu." Dexon berjalan beberapa langkah ke tengah ruangan. "Tapi 7505... baik-baik lupakan saja hal itu." Demian perlahan memutar kursinya ke arah Dexon, "Mereka yang kamu barusan sebut... kamu sedang membicarakan para malaikat betul?
        Dexon berbalik, "Apa tepatnya yang kamu ketahui tentang para malaikat itu?" Tanya Dexon terhadap Demian. "Jadi kamu memang sedang membicarakan para malaikat itu. Kalau begitu jawab dulu pertanyaanku ini atau aku tidak akan melanjutkan diskusi ini, siapa sebenarnya kalian ini? Apakah kamu sama sepertiku atau tidak?" Tanya Demian menuntut jawaban. "Aku sudah memberitahumu kan, kami tidak sama sepertimu, kami jauh lebih baik." Sahut Rea. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." Jawab Demian tidak puas. "Kalau begitu, beri pertanyaan yang lebih baik." Balas Rea memancing Demian untuk memberikan lebih banyak detil lewat pertanyaannya. "Apakah para malaikat juga datang kepadamu lewat mimpi?" Demian memakan umpan Rea, Rea tersenyum. "Kami tidak dapat menjawab itu." Jawab Rea seraya memutar kursinya ke arah monitor dan mulai menelusuri dan menggerakkan gambar-gambar di monitor layar sentuh menggunakan jari telunjuknya. "Apa?!" Seru Demian kesal, "Rubah berhati busuk!" Maki Demian dalam pikirannya, merasa ia telah dicurangi oleh Rea. "Hey jaga pikiranmu ya! Jangan bikin aku marah cowo manis." Tegur Rea sembari secara singkat memberi tatapan dingin kepada Demian dan kembali bergegas menelusuri gambar-gambar yang tempampang di layar sentuh. "Oh iya, dia bisa membaca pikiranku." Pikir Demian berusaha memahami situasinya. "Ceptor... itu sebutan untuk kita, jangan sampai kamu lupa." Jawab Rea. "Ia menyeramkan.. dan apa maksud dari sebutan aneh itu, memang Ceptor itu apa... atau tadi dia bilang raptor?! Masa mereka dinosaurus!" Pikir Demian sedikit terintimidasi dengan sikap Rea dan keasikan sendiri menebak-nebak. "Aku sudah memperingatkanmu Demian..." Ancam Rea, Demian terlihat ketakutan. "Tidak usah terlalu memikirkan sebutan aneh itu, lagipula semua nama kan hanya dibuat untuk menyederhanakan segala hal." Jelas Rea masih sibuk menelusuri gambar-gambar di layar.
          Demian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Baik pertanyaan lain. Jadi rubah ini uh... maksud ku Rea err.." Demian berbicara terbata-bata karena masih ketakutan. Rea memberikan tatapan yang tajam dan dingin dari tempat ia duduk. "Rea di sini dapat membaca pikiran, seorang... Ceptor, begitu juga denganku, apakah kamu juga dapat membaca pikiran?" Demian bertanya kepada Dexon seraya Dexon menoleh ke arah Demian. Dexon melirik ke arah Rea untuk beberapa saat, Rea mengangguk. Dexon kembali memandang Demian. "Ya, aku bisa." Dexon dengan perlahan berjalan ke kursinya, kembali duduk dan memutar kursinya ke arah monitor. "Tapi, aku tidak membaca pikiran manusia seperti yang dapat kalian lakukan. Aku seorang Cipher, aku membaca pikiran mereka." Jelas Dexon sembari menunjuk kepada monitor-monitor dihadapannya dengan tangan kanannya dan bergegas untuk mengetik di keyboardnya yang berwarna putih, "Dari pengalamanku mereka juga sangat kooperatif." Demian terkejut akan apa yang dikatakan oleh Dexon, namun tetap tenang. "Apa kamu mau bilang bahwa kamu benar-benar dapat berkomunikasi dengan mesin?" Tanya Demian mencoba memahami hal yang tidak terbayangkan, Dexon mengangguk. "Ceptor... Cipher... Ini benar-benar mengobrak-abrik pikiranku." Tutur Demian sembari meletakkan kepalan tangannya dibawah dagunya. "Tapi tolong jangan dipikirkan, ingat baik-baik bahwa kami di sini bertujuan untuk membantumu semampu kami." Tutur Dexon memastikan niat kooperatifnya. "Akan lebih menjamin, kalau kalian bisa menjelaskan segalanya padaku." Ujar Demian mencoba mempersuasi Dexon, "Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang memang tidak dapat kami ungkapkan demi kebaikanmu sendiri Demian." Dexon menjelaskan sekali lagi sembari memberi tatapan singkat ke Demian dan kembali fokus untuk mengetik di keyboardnya.
          "6.58 PM. Aku harus pergi." Pikir Demian sembari melirik jam tangannya dan segera menoleh ke arah Rea mengantisipasi kemampuannya untuk membaca pikiran, tidak berapa lama, Rea pun menoleh ke arahnya. "Kok buru-buru? Lagi banyak pikiran ya?" Tanya Rea sembari sedikit tersenyum. "Aku punya satu pertanyaan terakhir sebelum aku pergi." Demian mengajukan lalu Rea menoleh ke arahnya, "Sudah pertanyaan terakhir? Aku pikir masih banyak hal yang harus dibicarakan sekarang." Tutur Rea. "Aku tidak bisa membuang-buang waktuku di sini, aku harus menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan kepadaku sebelum malam ini berakhir. Para malaikat itu, mereka menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Apakah kalian tahu tentang hal itu?" Tanya Demian mencoba menentukan tingkat pengetahuan Rea dan Dex mengenai misinya. "Tentu saja, justru karena hal itulah mengapa kami mengarahkanmu ke sini." Jawab Dexon, "Kami butuh kamu untuk mengabaikan perintah yang disampaikan oleh para malaikat itu, dan membatalkan misinya sepenuhnya." Dexon memutar kursinya ke arah Demian memberikan seluruh perhatiannya.
         Demian mengambil beberapa saat untuk memikirkan segalanya dalam keheningan, "Kalau harus jujur, aku sama sekali tidak dapat berpikir sekarang." Demian menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa sedikit tertekan, Dexon menoleh ke Rea memberi signal padanya untuk melakukan sesuatu. "Aku harus percaya kepada siapa?" Pikir Demian. Rea berdiri dan berjalan ke arah Demian, ia meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Demian sementara tangan kirinya menggenggam SIM milik Demian, "Kamu bisa percaya pada kami Demian. Mereka bukanlah seperti yang kamu pikirkan, mereka memiliki niat yang buruk." Tutur Rea mempersuasi Demian. "Kalian juga tidak sepenuhnya terbuka denganku dan kalian mengharapkan aku untuk percaya kepada kalian begitu saja?" Demian mengambil SIM-nya dan berdiri, "Mau tahu sesuatu, waktuku sudah mau habis. Aku tidak bisa bersantai di sini terus mendengarkan penjalsan kalian yang dipenuhi dengan kode, aku harus pergi." Demian lari ke arah tangga dan bergegas menuruninya, "Tunggu Demian! Jangan lakukan perintah mereka!" Teriak Rea seraya berlari mengejar Demian ke arah tangga, "Sialan! Dia sudah pergi." Kutuk Rea sembari melihat ke bawah tangga dari lantai 2. "Tidak apa-apa princess, dia pasti akan membuat keputusan yang benar." Tutur Dexon seraya mengetik dengan santai di keyboardnya. "Aku harap begitu Dex. Aku betul-betul berharap." Ujar Rea sembari berjalan ke kursinya dan kembali duduk.
        "Apakah kamu sudah melakukan hal yang kita bicarakan?" Tanya Dexon sembari masih mengetik di komputernya. "Kamu pikir kamu sedang berbicara sama siapa Dex?" Jawab Rea dengan angkuh sembari menekan sebuah tombol di monitor layar sentuh dihadapannya. Muncul di monitor tersebut gambar Demian yang sedang keluar dari gedung dan berlari di trotoar. "Sekarang dia akan selalu berada di dalam jangkauan kita kapanpun kita inginkan." Tutur Rea memberi nama baru untuk video waktu nyata Demian tersebut, "Project Demian."

Kamis, 24 Mei 2012

Episode 1 [Bagian 3]: Relevansi

Matahari mulai terbenam, langit beranjak semakin gelap mengikuti jalannya arus waktu sementara awan-awan mulai memudar. Mobil Demian melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, tiba di Stuy Town bersamaan dengan bintang-bintang yang mulai memperlihatkan diri mereka di langit yang berwana biru kegelapan itu. "Mereka tidak pernah berhenti membuatku takjub." Ujar Demian seraya meluangkan waktunya sebentar memandangi langit di atas, salah satu dari banyak hal yang ia suka pandangi sembari berkonsentrasi terhadap jalanan di hadapannya. Saat itu jalanan sudah tidak kosong lagi, banyak orang sedang berusaha pulang ke rumahnya masing-masing. Suasana di lalu lintas hampir seluruhnya dipenuhi dengan warna merah dan krem muda yang bersumber dari lampu-lampu yang dipancarkan oleh berbagai mobil yang mengelilingi mobil Demian. "Baik lalu lintas, kamu menang!!" Ia berseru di dalam mobilnya seraya mengaku kalah kepada lalu lintas yang bergerak dengan sanat lamban itu, "Waktunya untuk musik." Ia menyalakan stereo dan memasukkan CD favoritnya. "Sekarang aku menang juga." Ia tersenyum sementara suara musik mulai memenuhi mobilnya.
          Dengan suara lantang, Demian ikut bernyanyi dengan stereonya di dalam mobil sampai ia memutuskan untuk melirik jam, "5.51 PM! Ini sangat berbahaya." Ia terdengar panik. Demian mematikan stereonya, ia merentangkan lehernya ke bagian sudut kiri atas dan mencoba untuk memperoleh pandangan jauh ke depan sekitar 10 mobil di depan mobilnya sembari mencari jalan keluar dari lalu lintas merayap yang sedang dijalaninya. Sepenuhnya berhenti di tengah jalanan, ia kembali melirik jam, "5.52 PM! Harus mencari jalan keluar!" Pikirnya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menemukan sebuah tempat parkir kosong di sebelah kiri jalan berjarak beberapa mobil dari tempat ia berada, "Jangan ada yang berani parkir di sana!" Seru Demian dalam pikirannya.
           Sesampainya di area tempat parkir kosong itu, ia menyalakan lampu signal untuk menginformasikan pengemudi lainnya bahwa ia akan memarkir di situ, mobil di belakangnya segera berhenti, mengizinkan Demian untuk memarkirkan mobilnya, "Terima kasih." Pikir Demian sembari memarkirkan mobilnya paralel di sebelah trotoar jalan. Sekali lagi ia melirik jam, "6.02 PM. Aku harus bergegas." Pikirnya sembari mematikan lampu dan mesin mobilnya, mengeluarkan surat tilang dari dalam dasbor dan segera keluar dari mobilnya, "Sweet Misty, kedai kopi." Dalam pikirannya ia mencatat tempat ia memarkir mobilnya. Ia membaca alamat tujuannya yang tertera di surat tilang sekali lagi, ia memandang ke depan dan mengkalkulasikan jarak perjalanannya di dalam kepalanya, "3 blok jauhnya. Sial." Ia segera lari.
          "6.19 PM. Saya berhasil." Ia melirik jam tangannya sembari sedikit terengah-engah. Ia mengeluarkan surat tilang dari kantong celananya dan membaca alamat yang tertera di sana sekali lagi lalu ia memandangi bangunan yang berdiri di hadapannya, "Ini tidak mungkin tempatnya?" Ia kembali melihat secara singkat alamat yang tertera di karcis pelanggaran dan kembali kepada gedung tersebut. "Ini benar-benar tidak mungkin tempatnya. Apa aku lagi dikerjain?"
           Demian meliriki gedung itu dengan perasaan bingung disertakan kemarahan yang semakin meningkat. Bangunan di hadapannya terlihat seperti bangunan komersial berlantai 2 yang tidak terurus, tembok yang keropos dan tidak ada pencahayaan. "Aku akan bunuh wanita itu." Pikir Demian dalam benaknya sangat jengkel dengan situasi yang sedang ia hadapi. "Kamu mungkin mau memikirkannya kembali Demian Trayson." Tutur Rea sembari keluar dari bangunan yang terkucilkan tersebut. Demian tercengang mendengar apa yang Rea baru saja katakan, "Apa yang baru kamu bilang?" Ia tanya Rea, secara tidak langsung mencoba mengkonfirmasikan spekulasinya, "Aku mengatakan apa yang aku katakan Demian. Mungkin bukan ide yang bagus untuk membunuhku, terlebih aku adalah salah satu orang yang dapat membantu. Aku bukanlah musuh, Demian." Jelas Rea mengkonfirmasikan tebakan Demian, "Kamu... kamu sama sepertiku?!" Demian memikirkannya sembari memandangi Rea dengan rasa cemas, menguji teorinya tentang Rea, "Tidak Demian, Aku tidak sama denganmu... bahkan tidak mendekati, aku jauh lebih baik." Rea tersenyum kepada Demian. "Sekarang tolong ikuti aku, aku akan membantumu dengan menginformasikan hal-hal yang perlu kamu ketahui. Tapi cepat, terlalu lama dan mereka akan sadar ada hal yang salah." Rea membuka pintu dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan Demian masuk, "Tapi aku tidak... Aku tidak mengerti." Demian terlihat bingung. "Jangan khawatir, aku di pihakmu, kamu bisa mempercayaiku. Kemari, buruan!" Rea menenangkan Demian dan sekali lagi mengundang Demian masuk. Demian akhirnya memutuskan untuk percaya kepadanya dan bergegas masuk, Rea memeriksa area di sekitarnya dan menutup pintu.

Senin, 14 Mei 2012

Episode 1 [Bagian 2]: Gangguan

"2.56 PM." Pikir Demian saat melirik jam digital di dalam mobil. Demian menghela nafas, "Waktuku masih banyak." Ia sedikit mengurangi kecepatan mobilnya untuk dapat menikmati jalanan dan pemandangan di sekitarnya seperti yang biasa ia lakukan untuk rileks. Sebuah perasaan yang menyenangkan melihat jalanan di hadapannya yang kosong, mobil terdekat di depan, jaraknya sangat jauh sampai Demian tidak dapat melihatnya dengan jelas. Demian memandang ke kiri dan menemukan deretan pohon pinus yang tertata dengan sempurna di sepanjang sisi jalanan, orang-orang berjalan dalam gerakan lamban di trotoar terlihat sibuk seperti biasanya mengenakan pakaian kantor dan mantel panjang sambil membawa hal-hal 'penting', "Pasti udaranya sedikit dingin di luar." Pikir Demian, ia lalu mengarahkan pandangannya ke langit jauh di atas, awan-awan tebal berwarna putih bersih hampir sepenuhnya melingkupi langit biru muda dalam formasi yang memukau. "Favoritku." Demian sedikit tersenyum, mabuk dalam relaksasi. "Lampu merah!!" Teriak Demian di dalam pikirannya, tanpa sengaja ia menerobos lampu merah dan saat itu juga ia meninggalkan alam relaksasi dalam pikirannya untuk sepenuhnya fokus kepada jalanan yang terbentang di hadapannya. "Sialan! Aku sama sekali tidak melihat lampu merah itu!" Kutuknya sembari tetap melaju dengan mobilnya. Ia menghela nafas, "Untung tidak terjadi apa-apa."
          Bunyi yang lirih namun tidak asing beranjak semakin keras, memenuhi suasana sunyi di lalu lintas yang sepi. Demian tidak terlalu dapat menerkanya, namun ia tetap berusaha untuk mencari jawabannya. Semakin keras bunyinya, semakin mudah untuk mengenali deringan bunyi yang mirip alarm tersebut. Ia memperoleh jawabannya, Demian memberikan lirikan singkat ke kaca spion di dalam mobilnya, "Sial, aku tidak ada waktu untuk hal ini sekarang!" Mobil polisi itu mendekat dan menyalakan lampu signal kirinya, mengisyaratkan Demian untuk menepi.
          Demian bergegas untuk memarkirkan mobilnya di dekat trotoar sementara mobil polisi itu segera melakukan hal yang sama di belakangnya. Beberapa saat kemudian seorang petugas melangkah keluar dari sisi kanan mobil polisi itu sambil membawa buku tilang dan bolpoin yang tergantung di saku bajunya, petugas itu menghampiri mobil Demian, sedikit membungkuk lalu mengetuk jendela mobil mengisyaratkan Demian untuk menurunkan jendelanya.
            Demian menurunkan jendela mobilnya dan melepaskan kacamatanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk anda di sore yang indah ini petugas?" Tanya Demian sembari menoleh ke petugas dan menyadari rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang dan tubuhnya yang langsing namun berlekukan menawan, "Seorang petugas wanita, cukup jarang di hari-hari sekarang ini." Pikir Demian. Sang petugas melepaskan kacamatanya, "Begini bapak, jika anda belum menyadarinya, barusan saja anda telah menerobos lampu merah di sebelah sana sekitar beberapa menit yang lalu." Ia menunjuk ke arah lampu merah tersebut beberapa mil di belakang. "Oh ya, apakah betul?" Tanya Demian berpura-pura tidak menyadari pelanggaran yang telah ia perbuat. Petugas wanita itu memicingkan kedua matanya, "Ya pak, sayangnya itu benar-benar terjadi. tolong, SIM dan STNK-nya." Tuturnya dengan nada datar sembari menadahkan telapak tangannya di hadapan Demian meminta surat-suratnya. Demian menggeledah dasbor dan dompetnya untuk menemukan kedua benda tersebut. "Silahkan nona... hmm dia berbeda." Demian menyerahkan kedua benda ke sang petugas. "Hmph! Jangan harap bisa, tampan. Petugas Rea, panggilan saya. Biarkan saya memeriksa surat-surat ini terlebih dahulu pak... Demian Trayson." Ia bergegas membaca surat-surat yang telah diserahkan kepadanya. "3:42 PM! Aku harus mempersingkat proses ini! Nona Rea apakah bisa kalau kita lebih bergegas lagi, saya ada acara penting yang akan dimulai sebentar lagi, yang juga merupakan tanggung jawab saya." Demian memohon padanya. Rea memberikan tatapan dingin kepada Demian, "Pak Demian, tolong bersabar. Saya harus selalu teliti di dalam pekerjaan saya, itulah juga sebabnya saya dijabatkan sebagai seorang petugas, ini merupakan perkerjaan yang serius lho." Ia menjelaskan, "Lagipula, anda tahu kan apa yang mereka bilang, jangan berbuat tindakan kriminal jika tidak dapat membayarnya dengan waktu, hahaha.. itu yang mereka bilang kan?" Ia bergurau. "Apa...? Ada apa sih dengan wanita ini, dia membuang-buang waktuku saja!" Demian mulai merasa jengkel dengan situasi itu. "Itu yang mereka bilang kan pak Demian? Tahu kan... ekpresi itu lho." Petugas Rea masih berusaha mengklarifikasi pemikirannya.
          "Nona Rea! Tolonglah, saya benar-benar sedang terburu-buru. Saya bertanggung jawab terhadap sebuah kejadian penting yang akan berlangsung sebentar lagi. Saya tidak bercanda sama sekali nih." Demian menjelaskan situasinya dengan nada yang sedikit melonjak. "Oh baik, saya minta maaf. Biar saya periksa sebentar surar-suratnya." Petugas Rea akhirnya selesai memeriksa STNK, sekarang berlanjut untuk memeriksa SIM, "Anda tidak perlu kasar tahu pak... dengan nada anda." Ujar petugas Rea sedikit tersinggung, ia memberi tatapan yang memelas kepada Demian, "Yang benar saja ini! Baik, saya juga minta maaf kepada anda nona Rea, sekarang bisakah kita sudahi permasalahan ini." Demian memohon. "Nah itu lebih baik." Ujar petugas Rea dengan nada yang ceria, Demian menggelengkan kepalanya sedikit. "Hmm.. pak Demian. Sayangnya saya harus menyita SIM anda ini yang sudah kadaluwarsa masa berlakunya beberapa bulan lalu." Ia mengembalikan surat STNK dan mengantongi SIM Demian di kantong bagian bawah di celananya. Demian kembali menyimpan surat STNK nya di dalam dasbor, "SIM saya habis masa berlakunya? Hal itu sangat tidak mungkin! Harusnya masa berlakunya baru habis tahun depan!" Ia menjelaskan dengan suara keras. "Ehem... nada anda pak." Petugas Rea kembali menatap Demian untuk mengingatkannya, Demian menghela nafasnya. Rea mengeluarkan SIM Demian dan memposisikannya di depan wajah Demian sehingga ia dapat melihat tanggal kadaluwarsanya, "Jadi pak Demian, seperti yang anda dapat lihat sendiri di sini. SIM anda kadaluwarsa bulan Januari tahun 2012, itu adalah 4 bulan yang lalu." Dengan jarinya Rea menunjukkan detailnya ke Demian. "Ini mustahil aku sangat yakin bahwa tanggal kadaluwarsanya adalah Januari 2013. Sialan." Pikir Demian seraya mengingat dengan seksama tanggal perpanjangan SIM tersebut. "Waktu itu bulan Januari 2008, aku yakin sekali. Saat itu bertepatan dengan kepergian ayahku, aku tidak mungkin salah tentang hal ini, betul-betul tidak masuk akal!"
          "Ehem pak Demian, bisa tolong perhatiannya?" Pinta Rea mencoba menarik fokus Demian kembali kepadanya. "Jadi seperti yang sudah saya sampaikan, saya harus menyita SIM anda sesuai dengan peraturan yang berlaku. Anda dapat mengambilnya di alamat yang tercantum di surat tilang untuk pelanggaran anda ini." Jelas petugas Rea sembari menyerahkan surat tilang kepada Demian. "Sudah jelas pak Demian?" Tanya Rea untuk mengkonfirmasi bahwa Demian mengerti seluruh situasinya. Demian menghela nafasnya dan mengangguk, "Ya saya mengerti."
           "Baik pak Demian, itu saja yang saya ingin sampaikan. Jangan lupa untuk segera mengunjungi alamat itu, harap diperhatikan baik-baik. Saya harus pergi sekarang, saya minta maaf atas apa yang terjadi di sini pak Demian. Saya harap anda sudah belajar dari pengalaman ini dan menjadi lebih hati-hati tatkala menyetir mulai dari sekarang." Tutur Rea sembari mengenakan kacamata hitamnya dan memberikan senyuman perpisahan kepada Demian, ia lalu segera berjalan ke mobil polisinya. Beberapa saat kemudian, mobil polisi tersebut melaju melewati mobil Demian yang masih terparkir dekat trotoar jalanan. Demian melihat sosok orang lain yang menyetir mobil polisi selagi mobil itu pergi, ia segera melirik plat nomor mobil tersebut, "7505." Demian berpikir bahwa mengingat plat nomor tersebut merupakan ide yang baik.
          "Sialan!" Demian menghantam stir mobil dengan kepal tangannya. Demian melirik jam, "4:14 PM. Aku masih ada waktu untuk mengurus seluruh permasalahan SIM yang penuh omong kosong ini sebelum saat itu. Tenang Demian, kamu bisa melakukan ini." Tutur Demian seraya menenangkan dirinya sendiri. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Alamat ini, letaknya di Stuyvesant. Setidaknya dekat dengan tempat tinggalku." Demian menghela nafas, "Baiklah ini tidak akan mengganggu rencana semula. Aku dapat menyelesaikan tugas itu setelah mengambil kembali SIM-ku." Demian menyalakan mesin mobil dan segera melaju pergi. "Hm... langitnya masih terlihat bagus di jam segini. Sore yang benar-benar indah." Renung Demian seraya sekali lagi meluangkan waktunya untuk menikmati pemandangan selagi menyetir mobilnya ke Stuy town untuk memperoleh kembali SIM-nya.

Sementara itu di dalam mobil polisi
      
          "Bagaimana performaku tadi Dex?" Ujar Rea kepada temannya yang duduk di kursi supir sembari melepaskan kacamatanya dan memandang ke arahnya. "Sempurna seperti biasanya princess." Balas Dex sembari tersenyum. "Ya dong, apa lagi hasil yang bisa kamu harapkan dari ku Dexon?" Ujar Rea memancing Dexon untuk lebih memujinya lagi. "Ya Rea, aku akan tepuk tangan kalau aku lagi gak nyetir. Sekarang seluruh kartunya ada di tangan kita yang trampil ini." Tutur Dexon sembari tetap terfokus kepada jalanan. "Dan yang diperlukan hanyalah tiga perubahan seperti yang sudah kamu kalkulasi, kamu memang hebat Dexon!" Ia menyondongkan tubuhnya untuk memeluk Dexon. "Sebentar Rea!" Seru Dex seraya tangannya lepas dari stir, mobil polisi itu meluncur ke sisi kiri jalan di luar kendali. Terkejut, Rea segera kembali ke posisi duduk normalnya, Dexon meletakkan kedua tangannya kembali di stir. "Maaf Dex! Tadi itu salahku, Alphy gak apa-apa kan?" Rea minta maaf, Dexon menepuk bahu Rea dengan tangan kanannya untuk sesaat dan segera meletakannya kembali dengan hati-hati di stir, "Gak, jangan khawatir Rea. Benda sialan ini saja yang merepotkan, sekarang aku masih berlatih agar bisa terbiasa, aku pasti akan menguasainya sebentar lagi seperti mesin-mesin lainnya di hidupku. Alphy sedikit tertegun, tapi sedikit guncangan tidak akan dapat menyakitinya sebagaimanapun. Kamu kan tahu itu Rea, kasih Alphy lebih banyak kredit dong." Jelas Dexon sembari meletakkan tangan kanannya di bagian tengah dadanya dan menatap Rea memastikan bahwa mereka berdua tidak apa-apa sekaligus menghibur Rea. "Aku tahu.. tapi tetap saja, maaf Alphy." Rea cemberut dengan raut wajah yang lucu, Dexon tersenyum lagi, "Kami baik-baik saja Rea, jujur."
       "Ya, okay kalau gitu. Lagipula Dexon, aku tahu kamu dan apa saja yang dapat kamu lakukan. Benda ini mah bukan apa-apa." Tutur Rea seraya kembali menikmati pemandangan jalanan di hadapannya, "Hmm, harus kuakui. Aku mulai menyukai tempat ini, dan si Demian itu terlihat jauh lebih seksi saat berhadapan langsung." Rea menegaskan, "Ia mengingatkanku padamu Dex." Dexon melirik ke arah Rea sambil tersenyum, "Aku tahu kamu dari awal ketemu udah naksir ama aku." Goda Dexon, Rea tersenyum dan memukul Dexon dengan ringan di bagian atas tangan kanannya, "Haha, hati-hati princess. Aku sudah kasih tahu kalau aku masih mencoba untuk terbiasa dengan benda ini. Tapi sejujurnya, aku senang mendengar bahwa kamu menikmati ini sebagaimana aku menikmatinya. Kita memang tim yang terbaik, betul gak?" Rea kembali mengenakan kacamatanya, " Dexon, ini baru sekedar permulaan." Tutur Rea sementara mobilnya melaju dengan kencang melewati jalanan yang kosong.

Selasa, 08 Mei 2012

Episode 1 [Bagian 1]: Kepentingan

"Ini waktunya. Tempat dimana aku dapat menemukan pria itu." Tutur Demian selagi ia berdiri di luar, memandangi gedung yang luar biasa besar, menjulang di atas tangga yang cukup tinggi dan lebar, dengan anak tangga yang jumlahnya 15 pijakan, terbuat dari batu dan dilengkapi dengan pegangan tangga berkelas dari kaca yang transparan di hadapannya. "Aku dapat melakukannya, aku yakin. Semuanya tergantung padaku sekarang." Ia lalu memanjat tangga tersebut dan masuk ke menara raksasa yang dikelola oleh perusahaan asuransi nomor 2 paling sukses di dunia yang bernama Financial Union Security.
             Tidak ada seorangpun di lobi utama, hanya sofa merah kosong yang disediakan bagi tamu, lampu-lampu kristal mahal dan sejumlah tanaman dalam ruangan. Tepat di tengah lobi yang sepi tersebut, seorang wanita resepsionis berambut pirang bertubuh langsing sepertinya sedang sibuk mengetik di komputernya sembari menjawab telepon. Resepsionis tersebut hampir tidak kelihatan karena ia duduk di belakang meja resepsi berwarna hitam yang ukurannya tinggi dan lebar terbuat dari granit, dan meja tersebut berhadapan langsung dengan pintu masuk utama gedung.
          Resepsionis itu menatap dari bagian atas meja resepsi, menyadari ada seorang pria yang mengenakan setelan mahal lengkap dengan kacamata hitam, sedang berjalan melintasi lobi, "Sebutkan nama anda pak." Tutur sang resepsionis selagi Demian menghampiri mejanya dan melepas kacamatanya, wanita resepsionis itu segera menutup teleponnya.
          "Faeron Lawrence." Demian berbohong. "Kepentingan anda disini pak Lawrence?" Resepsionis itu bertanya sembari menyiapkan kertas dan mencari pena untuk mencatat jawaban Demian. "Saya telah membuat jadwal pertemuan dengan pak Westler, saya ingin tahu di lantai berapa kantor pak Westler terletak?" Demian kembali menjawab dengan pertanyaan. Resepsionis tersebut meletakkan penanya, "Biarkan saya menginformasikan pak Westler mengenai persoalan ini, mohon ditunggu sebentar." Ujar resepsionis tersebut diteruskan dengan mengangkat gagang telepon dan meletakkannya di telinga. "Tidak, hal itu tidak perlu dilakukan. Sepertinya saya sudah tidak lagi memerlukan bantuanmu... Cerine." Demian menyondongkan tubuhnya dan bersandar ke meja resepsi dengan sikut kanannya sembari  memberikan sedikit senyuman dan tatapan tajam.
          Cerine terlihat kaget, "Pak Lawrence...? Bagaimana anda bisa mengetahui nama saya?! Dan apa maksudnya anda sudah tidak memerlukan bantuan saya lagi?" Ia meletakkan ganggang teleponnya dan menarik kursinya sedikit ke belakang. 
          Demian kembali berdiri tegap, "Tidak perlu khawatir Cerine, saya hanya membaca nama yang tertulis di plat meja ini, Saya berasumsi itu nama anda." Ia mengangkat plat meja tersebut dan membalikannya sehingga Cerine dapat membaca namanya sendiri, "Anda bisa lihat di sini... Cerine." Ia membacakannya sambil menunjuk plat meja tersebut. "Oh... iya. Saya jadi malu." Cerine sedikit tersipu.
          "Sayangnya saya harus pergi sekarang... Cerine. Saya ada urusan lain yang harus diselesaikan." Demian membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu utama untuk keluar dari gedung. Cerine berdiri, "Tentu pak Lawrence, semoga hari anda menyenangkan." Ia kembali duduk dan kembali mengetik di komputernya, tidak beberapa lama telepon berdering dan ia langsung mengangkatnya untuk menjawab, "Halo dan selamat siang, kantor pusat Financial Union Security. Nama saya Cerine, bagaimana saya dapat membantu?" Demian menghentikan langkahnya, mengenakan kacamata hitamnya dan menoleh ke kanan sehingga Cerine dapat melihat sisi samping wajahnya. "Selain itu, jangan terlalu khawatir dengan adik anda, seperti yang anda tahu dia bukan seorang anak kecil lagi, pasti ia akan dapat segera menemukan pekerjaan." Tutur Demian dilanjutkan dengan kembali berjalan ke pintu keluar. Terkejut, Cerine menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya ke lantai, "Tapi, bagaimana anda bisa?! Pak Lawrence!" Serunya sembari berdiri.
          Demian sampai diluar, segera ia menuruni tangga dan berjalan menuju mobilnya yang diparkir di dekat taman kota berjarak 1 blok dari gedung tersebut. Pikirannya sangat terfokus pada hal yang harus ia kerjakan sampai ia mengacuhkan apapun dan siapapun yang ia lewati dengan tergesa-gesa, "Jadi letaknya di lantai 38. Aku akan menyelesaikannya malam ini. Akhirnya giliranku untuk membuat sebuah perubahan, aku tidak akan gagal." Ujar Demian sembari masuk ke mobil, ia menyalakan mesin dan segera melaju dengan mobilnya, "Aku tidak akan mengecewakan mereka."