"Ini waktunya. Tempat dimana aku dapat menemukan pria itu." Tutur Demian selagi ia berdiri di luar, memandangi gedung yang luar biasa besar, menjulang di atas tangga yang cukup tinggi dan lebar, dengan anak tangga yang jumlahnya 15 pijakan, terbuat dari batu dan dilengkapi dengan pegangan tangga berkelas dari kaca yang transparan di hadapannya. "Aku dapat melakukannya, aku yakin. Semuanya tergantung padaku sekarang." Ia lalu memanjat tangga tersebut dan masuk ke menara raksasa yang dikelola oleh perusahaan asuransi nomor 2 paling sukses di dunia yang bernama Financial Union Security.
Tidak ada seorangpun di lobi utama, hanya sofa merah kosong yang disediakan bagi tamu, lampu-lampu kristal mahal dan sejumlah tanaman dalam ruangan. Tepat di tengah lobi yang sepi tersebut, seorang wanita resepsionis berambut pirang bertubuh langsing sepertinya sedang sibuk mengetik di komputernya sembari menjawab telepon. Resepsionis tersebut hampir tidak kelihatan karena ia duduk di belakang meja resepsi berwarna hitam yang ukurannya tinggi dan lebar terbuat dari granit, dan meja tersebut berhadapan langsung dengan pintu masuk utama gedung.
Resepsionis itu menatap dari bagian atas meja resepsi, menyadari ada seorang pria yang mengenakan setelan mahal lengkap dengan kacamata hitam, sedang berjalan melintasi lobi, "Sebutkan nama anda pak." Tutur sang resepsionis selagi Demian menghampiri mejanya dan melepas kacamatanya, wanita resepsionis itu segera menutup teleponnya.
"Faeron Lawrence." Demian berbohong. "Kepentingan anda disini pak Lawrence?" Resepsionis itu bertanya sembari menyiapkan kertas dan mencari pena untuk mencatat jawaban Demian. "Saya telah membuat jadwal pertemuan dengan pak Westler, saya ingin tahu di lantai berapa kantor pak Westler terletak?" Demian kembali menjawab dengan pertanyaan. Resepsionis tersebut meletakkan penanya, "Biarkan saya menginformasikan pak Westler mengenai persoalan ini, mohon ditunggu sebentar." Ujar resepsionis tersebut diteruskan dengan mengangkat gagang telepon dan meletakkannya di telinga. "Tidak, hal itu tidak perlu dilakukan. Sepertinya saya sudah tidak lagi memerlukan bantuanmu... Cerine." Demian menyondongkan tubuhnya dan bersandar ke meja resepsi dengan sikut kanannya sembari memberikan sedikit senyuman dan tatapan tajam.
Cerine terlihat kaget, "Pak Lawrence...? Bagaimana anda bisa mengetahui nama saya?! Dan apa maksudnya anda sudah tidak memerlukan bantuan saya lagi?" Ia meletakkan ganggang teleponnya dan menarik kursinya sedikit ke belakang.
Demian kembali berdiri tegap, "Tidak perlu khawatir Cerine, saya hanya membaca nama yang tertulis di plat meja ini, Saya berasumsi itu nama anda." Ia mengangkat plat meja tersebut dan membalikannya sehingga Cerine dapat membaca namanya sendiri, "Anda bisa lihat di sini... Cerine." Ia membacakannya sambil menunjuk plat meja tersebut. "Oh... iya. Saya jadi malu." Cerine sedikit tersipu.
"Sayangnya saya harus pergi sekarang... Cerine. Saya ada urusan lain yang harus diselesaikan." Demian membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu utama untuk keluar dari gedung. Cerine berdiri, "Tentu pak Lawrence, semoga hari anda menyenangkan." Ia kembali duduk dan kembali mengetik di komputernya, tidak beberapa lama telepon berdering dan ia langsung mengangkatnya untuk menjawab, "Halo dan selamat siang, kantor pusat Financial Union Security. Nama saya Cerine, bagaimana saya dapat membantu?" Demian menghentikan langkahnya, mengenakan kacamata hitamnya dan menoleh ke kanan sehingga Cerine dapat melihat sisi samping wajahnya. "Selain itu, jangan terlalu khawatir dengan adik anda, seperti yang anda tahu dia bukan seorang anak kecil lagi, pasti ia akan dapat segera menemukan pekerjaan." Tutur Demian dilanjutkan dengan kembali berjalan ke pintu keluar. Terkejut, Cerine menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya ke lantai, "Tapi, bagaimana anda bisa?! Pak Lawrence!" Serunya sembari berdiri.
Demian sampai diluar, segera ia menuruni tangga dan berjalan menuju mobilnya yang diparkir di dekat taman kota berjarak 1 blok dari gedung tersebut. Pikirannya sangat terfokus pada hal yang harus ia kerjakan sampai ia mengacuhkan apapun dan siapapun yang ia lewati dengan tergesa-gesa, "Jadi letaknya di lantai 38. Aku akan menyelesaikannya malam ini. Akhirnya giliranku untuk membuat sebuah perubahan, aku tidak akan gagal." Ujar Demian sembari masuk ke mobil, ia menyalakan mesin dan segera melaju dengan mobilnya, "Aku tidak akan mengecewakan mereka."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuangkan pikiran anda di sini kawan-kawan. Umpan balik dan semua saran anda akan selalu dihargai, terima kasih.