Matahari mulai terbenam, langit beranjak semakin gelap mengikuti jalannya arus waktu sementara awan-awan mulai memudar. Mobil Demian melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, tiba di Stuy Town bersamaan dengan bintang-bintang yang mulai memperlihatkan diri mereka di langit yang berwana biru kegelapan itu. "Mereka tidak pernah berhenti membuatku takjub." Ujar Demian seraya meluangkan waktunya sebentar memandangi langit di atas, salah satu dari banyak hal yang ia suka pandangi sembari berkonsentrasi terhadap jalanan di hadapannya. Saat itu jalanan sudah tidak kosong lagi, banyak orang sedang berusaha pulang ke rumahnya masing-masing. Suasana di lalu lintas hampir seluruhnya dipenuhi dengan warna merah dan krem muda yang bersumber dari lampu-lampu yang dipancarkan oleh berbagai mobil yang mengelilingi mobil Demian. "Baik lalu lintas, kamu menang!!" Ia berseru di dalam mobilnya seraya mengaku kalah kepada lalu lintas yang bergerak dengan sanat lamban itu, "Waktunya untuk musik." Ia menyalakan stereo dan memasukkan CD favoritnya. "Sekarang aku menang juga." Ia tersenyum sementara suara musik mulai memenuhi mobilnya.
Dengan suara lantang, Demian ikut bernyanyi dengan stereonya di dalam mobil sampai ia memutuskan untuk melirik jam, "5.51 PM! Ini sangat berbahaya." Ia terdengar panik. Demian mematikan stereonya, ia merentangkan lehernya ke bagian sudut kiri atas dan mencoba untuk memperoleh pandangan jauh ke depan sekitar 10 mobil di depan mobilnya sembari mencari jalan keluar dari lalu lintas merayap yang sedang dijalaninya. Sepenuhnya berhenti di tengah jalanan, ia kembali melirik jam, "5.52 PM! Harus mencari jalan keluar!" Pikirnya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menemukan sebuah tempat parkir kosong di sebelah kiri jalan berjarak beberapa mobil dari tempat ia berada, "Jangan ada yang berani parkir di sana!" Seru Demian dalam pikirannya.
Sesampainya di area tempat parkir kosong itu, ia menyalakan lampu signal untuk menginformasikan pengemudi lainnya bahwa ia akan memarkir di situ, mobil di belakangnya segera berhenti, mengizinkan Demian untuk memarkirkan mobilnya, "Terima kasih." Pikir Demian sembari memarkirkan mobilnya paralel di sebelah trotoar jalan. Sekali lagi ia melirik jam, "6.02 PM. Aku harus bergegas." Pikirnya sembari mematikan lampu dan mesin mobilnya, mengeluarkan surat tilang dari dalam dasbor dan segera keluar dari mobilnya, "Sweet Misty, kedai kopi." Dalam pikirannya ia mencatat tempat ia memarkir mobilnya. Ia membaca alamat tujuannya yang tertera di surat tilang sekali lagi, ia memandang ke depan dan mengkalkulasikan jarak perjalanannya di dalam kepalanya, "3 blok jauhnya. Sial." Ia segera lari.
"6.19 PM. Saya berhasil." Ia melirik jam tangannya sembari sedikit terengah-engah. Ia mengeluarkan surat tilang dari kantong celananya dan membaca alamat yang tertera di sana sekali lagi lalu ia memandangi bangunan yang berdiri di hadapannya, "Ini tidak mungkin tempatnya?" Ia kembali melihat secara singkat alamat yang tertera di karcis pelanggaran dan kembali kepada gedung tersebut. "Ini benar-benar tidak mungkin tempatnya. Apa aku lagi dikerjain?"
Demian meliriki gedung itu dengan perasaan bingung disertakan kemarahan yang semakin meningkat. Bangunan di hadapannya terlihat seperti bangunan komersial berlantai 2 yang tidak terurus, tembok yang keropos dan tidak ada pencahayaan. "Aku akan bunuh wanita itu." Pikir Demian dalam benaknya sangat jengkel dengan situasi yang sedang ia hadapi. "Kamu mungkin mau memikirkannya kembali Demian Trayson." Tutur Rea sembari keluar dari bangunan yang terkucilkan tersebut. Demian tercengang mendengar apa yang Rea baru saja katakan, "Apa yang baru kamu bilang?" Ia tanya Rea, secara tidak langsung mencoba mengkonfirmasikan spekulasinya, "Aku mengatakan apa yang aku katakan Demian. Mungkin bukan ide yang bagus untuk membunuhku, terlebih aku adalah salah satu orang yang dapat membantu. Aku bukanlah musuh, Demian." Jelas Rea mengkonfirmasikan tebakan Demian, "Kamu... kamu sama sepertiku?!" Demian memikirkannya sembari memandangi Rea dengan rasa cemas, menguji teorinya tentang Rea, "Tidak Demian, Aku tidak sama denganmu... bahkan tidak mendekati, aku jauh lebih baik." Rea tersenyum kepada Demian. "Sekarang tolong ikuti aku, aku akan membantumu dengan menginformasikan hal-hal yang perlu kamu ketahui. Tapi cepat, terlalu lama dan mereka akan sadar ada hal yang salah." Rea membuka pintu dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan Demian masuk, "Tapi aku tidak... Aku tidak mengerti." Demian terlihat bingung. "Jangan khawatir, aku di pihakmu, kamu bisa mempercayaiku. Kemari, buruan!" Rea menenangkan Demian dan sekali lagi mengundang Demian masuk. Demian akhirnya memutuskan untuk percaya kepadanya dan bergegas masuk, Rea memeriksa area di sekitarnya dan menutup pintu.
Dengan suara lantang, Demian ikut bernyanyi dengan stereonya di dalam mobil sampai ia memutuskan untuk melirik jam, "5.51 PM! Ini sangat berbahaya." Ia terdengar panik. Demian mematikan stereonya, ia merentangkan lehernya ke bagian sudut kiri atas dan mencoba untuk memperoleh pandangan jauh ke depan sekitar 10 mobil di depan mobilnya sembari mencari jalan keluar dari lalu lintas merayap yang sedang dijalaninya. Sepenuhnya berhenti di tengah jalanan, ia kembali melirik jam, "5.52 PM! Harus mencari jalan keluar!" Pikirnya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menemukan sebuah tempat parkir kosong di sebelah kiri jalan berjarak beberapa mobil dari tempat ia berada, "Jangan ada yang berani parkir di sana!" Seru Demian dalam pikirannya.
Sesampainya di area tempat parkir kosong itu, ia menyalakan lampu signal untuk menginformasikan pengemudi lainnya bahwa ia akan memarkir di situ, mobil di belakangnya segera berhenti, mengizinkan Demian untuk memarkirkan mobilnya, "Terima kasih." Pikir Demian sembari memarkirkan mobilnya paralel di sebelah trotoar jalan. Sekali lagi ia melirik jam, "6.02 PM. Aku harus bergegas." Pikirnya sembari mematikan lampu dan mesin mobilnya, mengeluarkan surat tilang dari dalam dasbor dan segera keluar dari mobilnya, "Sweet Misty, kedai kopi." Dalam pikirannya ia mencatat tempat ia memarkir mobilnya. Ia membaca alamat tujuannya yang tertera di surat tilang sekali lagi, ia memandang ke depan dan mengkalkulasikan jarak perjalanannya di dalam kepalanya, "3 blok jauhnya. Sial." Ia segera lari.
"6.19 PM. Saya berhasil." Ia melirik jam tangannya sembari sedikit terengah-engah. Ia mengeluarkan surat tilang dari kantong celananya dan membaca alamat yang tertera di sana sekali lagi lalu ia memandangi bangunan yang berdiri di hadapannya, "Ini tidak mungkin tempatnya?" Ia kembali melihat secara singkat alamat yang tertera di karcis pelanggaran dan kembali kepada gedung tersebut. "Ini benar-benar tidak mungkin tempatnya. Apa aku lagi dikerjain?"
Demian meliriki gedung itu dengan perasaan bingung disertakan kemarahan yang semakin meningkat. Bangunan di hadapannya terlihat seperti bangunan komersial berlantai 2 yang tidak terurus, tembok yang keropos dan tidak ada pencahayaan. "Aku akan bunuh wanita itu." Pikir Demian dalam benaknya sangat jengkel dengan situasi yang sedang ia hadapi. "Kamu mungkin mau memikirkannya kembali Demian Trayson." Tutur Rea sembari keluar dari bangunan yang terkucilkan tersebut. Demian tercengang mendengar apa yang Rea baru saja katakan, "Apa yang baru kamu bilang?" Ia tanya Rea, secara tidak langsung mencoba mengkonfirmasikan spekulasinya, "Aku mengatakan apa yang aku katakan Demian. Mungkin bukan ide yang bagus untuk membunuhku, terlebih aku adalah salah satu orang yang dapat membantu. Aku bukanlah musuh, Demian." Jelas Rea mengkonfirmasikan tebakan Demian, "Kamu... kamu sama sepertiku?!" Demian memikirkannya sembari memandangi Rea dengan rasa cemas, menguji teorinya tentang Rea, "Tidak Demian, Aku tidak sama denganmu... bahkan tidak mendekati, aku jauh lebih baik." Rea tersenyum kepada Demian. "Sekarang tolong ikuti aku, aku akan membantumu dengan menginformasikan hal-hal yang perlu kamu ketahui. Tapi cepat, terlalu lama dan mereka akan sadar ada hal yang salah." Rea membuka pintu dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan Demian masuk, "Tapi aku tidak... Aku tidak mengerti." Demian terlihat bingung. "Jangan khawatir, aku di pihakmu, kamu bisa mempercayaiku. Kemari, buruan!" Rea menenangkan Demian dan sekali lagi mengundang Demian masuk. Demian akhirnya memutuskan untuk percaya kepadanya dan bergegas masuk, Rea memeriksa area di sekitarnya dan menutup pintu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuangkan pikiran anda di sini kawan-kawan. Umpan balik dan semua saran anda akan selalu dihargai, terima kasih.